Kamis, 22 Maret 2012

global warming

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semenjak manusia zaman purbakala sampai dengan zaman sekarang, manusia selalu mengalami perkembangan dalam setiap periode waktu yang dilewatinya. Peradaban manusia sekarang telah mengalami banyak kemajuan. Selama perkembangan itu, manusia menjalani kehidupan dengan bergantung pada pertanian dan agrikultur. Melalui orientasi kehidupan tersebut, manusia selalu berusaha menjaga dan melestarikan lingkungannya dengan sebaik-baiknya yang bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Manusia sekarang telah mengalami zaman revolusi industri yang menggantungkan kehidupan pada bidang perindustrian. Dengan menggunakan orientasi hidup tersebut, dunia agrikultur pun mengalami kemunduran secara perlahan-lahan. Nilai-nilai kehidupan manusia pun mengalami perubahan, terutama dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Perubahan-perubahan yang terjadi ini menghasilkan dampak positif maupun negatif. Salah satu dampak revolusi industri yang telah terjadi dan masih terus berlanjut pada masa sekarang dalam kehidupan dan peradaban manusia adalah dampaknya bagi lingkungan yang ada di sekitar manusia itu sendiri. Ekspansi usaha yang dilakukan oleh para pelaku industri seperti pembangunan pabrik-pabrik dan pembuatan produksi dengan kapasitas besar dengan mengesampingkan perhatian terhadap dampaknya bagi lingkungan secara perlahan namun pasti telah mengakibatkan kelalaian yang pada akhirnya akan merugikan lingkungan tempat tinggal manusia dan kehidupannya. Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang terbesar bagi lingkungan dan dunia secara global akibat usaha perindustrian yang dilakukan dan telah berkembang pesat saat ini. Dampak negatif ini adalah terjadinya pemanasan di dunia dan sering disebut sebagai Global Warming. Namun, masalah Global Warming sebagai masalah lingkungan ini masih diperdebatkan kebenarannya oleh beberapa pihak yang menganggap Global Warming adalah alasan yang diciptakan untuk membatasi laju perkembangan perindustrian. Walaupun masih terdapat perdebatan mengenai kebenaran keadaan Global Warming di antara para ahli lingkungan tersebut, masalah Global Warming ini tidaklah dapat diungkiri untuk diteliti dan diteliti lebih lanjut demi kelangsungan kehidupan manusia. 1.2 Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah : - Agar setiap orang menyadari betapa besar dampak dari pemanasan global. - Agar setiap orang yang ada di muka Bumi ini ikut serta dalam mengantisipasi dampak pemanasan global. - Agar setiap individu sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. 1.3 Permasalahan Permasalahan dalam makalah ini adalah peranan individu dan masyarakat dalam menangani dan mengantisipasi dampak pemanasan global. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Pemanasan Global Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 °C sampai 0.18 °C (1.33°F - 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut. Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1°C hingga 6.4°C (2.0°F hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan. 2.2 Penyebab Pemanasan Global Adapun penyebab terjadinya pemanasan global yaitu :  Efek rumah kaca Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.  Efek umpan balik Penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer. Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es.[4] Ketika suhu global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan. 2.3 Peran Individu Dalam Mengantisipasi Dampak Pemanasan Global Sebenarnya ada bermacam cara memperlambat dampak pemanasan global, cara-cara tersebut umumnya mudah dan sederhana. Tetapi kurang dilakukan secara serius oleh kebanyakan orang. Padahal pemanasan global adalah masalah yang serius. Suhu Bumi yang terus meningkat akan ber efek panjangnya musim kering atau kemarau, mencairnya gunungan es di kutub, naiknya permukaan air laut, dan sulitnya mencari sumber mata air. Adapun cara-cara mengurangi pemanasan global adalah sebagai berikut: 1. Batasi penggunaan kertas Tanamkan di pikiran anda kuat-kuat, bahwa setiap anda menggunakan selembar kertas maka anda telah menebang sebatang pohon. Oleh karena itu gunakan kertas se-efektif mungkin misalnya dengan mencetak print out bolak-balik pada setiap kertas. Bila anda nge-print sesuatu yang tidak terlalu penting, gunakanlah kertas bekas yang dibaliknya masih kosong. 2. Ganti bola lampu Segera ganti bola lampu pijar anda dengan lampu neon. Lampu neon ini membutuhkan energi yang lebih sedikit dibanding lampu pijar. Ingat setiap daya daya listrik yang anda pakai maka anda turut serta menghabiskan sumber daya energi listrik yang kebanyakan berbahan bakar fosil. Bahan bakar fosil adalah bahan bakar tak terbarukan, dan dalam jangka sepuluh tahun ke depan mungkin bahan bakar jenis ini akan habis. 3. Hindari screen saver Shut down Komputer anda jika tidak akan digunakan dalam jangka lama, atau jika anda terpaksa meninggalkan komputer dalam keadaan menyala, matikan screen saver. Mengaktifkan screen saver akan memakan energi dan mengeluarkan emisi CO2. Jadi matikan screen saver anda sekarang! 4. Periksa tekanan ban Setiap anda ingin berpergian jangan lupa memeriksa tekanan ban kendaraan anda. ban yang kurang angin akan memperlambat laju kendaraan dan akhirnya akan membutuhkan bahan bakar yang lebih banyak. 5. Buka jendela lebar-lebar Di Amerika , sebagian besar dari 22,7 ton emisi CO2 berasal dari rumah. Kebanyakan emisi atau gas buang tersebut berasal dari AC, kulkas, kompor gas atau refrigerator. Unutk meminimalkannya ketika dapat mengatur termostat AC dengan suhu udara di luar ruangan. Kemudian bukalah jendela lebar-lebar karena sirkulasi udara yang terjebak dapat mengkonsumsi energi. 6. Gunakan pupuk organik. Pupuk yang digunakan kebanyakan petani mengandung unsur nitrogen, yang kemudian berubah menjadi N2O yang menimbulkan efek GRK (Gas Rumah Kaca) 320 kali lebih besar dari pada CO2. Jika anda hobi berkebun gunakanlah pupuk organik. Disamping aman, murah pula. 7. Tanamlah rumpun bambu Pepohonan memang terbukti mampu menyerap CO2, tetapi ternyata pohon atau rumpun bambu mampu menyerap CO2 empat kali lebih banyak dari pohon-pohon lain. 8. Naik kendaraan umum Saat ini jumlah kendaraan pribadi sudah teramat banyak dan bikin sumpek. Sector transportasi menyumbang sampai 14 % emisi gas rumah kaca ke atmosfer, jika kita menggunakan kendaran umum maka kita mengurangi emisi gas rumah kaca, karena dalam satu kendaraan umum bisa mengangkut puluhan orang, dan itu sangat hemat energi. Dibandingkan dengan kendaraan pribadi sperti sedan yang hanya mengangkut maksimal empat orang. 9. Kurangi makan daging sapi Betul, kurangi dari sekarang memakan daging sapi. Selain megandung kalori yang tinggi. Daging sapi juga menyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup signifikan. Setiap kilogaram daging sapi yang kita makan, setara dengan menyalakan bola lampu 20 watt selama 20 hari. 10. Jangan pakai kantong plastik Di beberapa Negara bagian Amerika, urusan kantong plastik bahkan sampai dibuat undang-undangnya segala. LSM peduli lingkungan mendorong pemerintah Negara setempat untuk melarang penggunaan kantong plastik sebagai kantong belanjaan. Plastik ini memang unsur yang sulit terurai, butuh 1000 tahun untuk mengurainya didalam tanah. Efek Gas rumah kaca yang ditimbulkannya juga cukup besar. Maka beralihlah ke kantong kain, misal dari kain serat alami. 11. Membeli produk lokal Produk lokal tentu tidak memerlukan jalur distribusi yang panjang dan membutuhkan banyak bahan bakar. Ini berarti mengurangi emisi CO2 yang dikeluarkan mobil-mobil pengangkutnya. Kemudian belilah produk sayuran atau buah-buahan sesuai musimnya. Ini akan menghemat biaya transportasi dan menghindari harga jual yang mahal. 12. Hidup efisien Apapun aktifitas manusia di bumi akan berdampak pada bumi yang kita diami ini. Pola komsumsi energi, pola lingkungan dan sebagainya. Hiduplah seefisien mungkin, gunakan sedikit energi, komsumsilah sedikit makanan, tinggalkan pola hidup konsumtif, ramahlah terhadap lingkungan, sedikit bicara lebih banyak berpikir, dan sebagainya. 13. Mengemudi cerdas Hindari perjalanan yang panjang dan menghabiskan waktu, bila mungkin memotong jalan lakukanlah. Kurangilah aktifitas yang menggunakan kendaraan pribadi. Jika terpaksa menggunakan kendaraan pribadi, pilihlah jalan-jalan alternatif yang bebas macet dan tidak mengkonsumsi energi. Bila anda menunggu, matikan mesin sebab gas buangan tetap keluar sementara bahan bahan bakar terpakai. 14. Pakai baju bekas Sekarang bukan jamannya gengsi, toh kita mati tidak membawa gengsi. Tak perlu malu memakai baju bekas atau baju warisan orang tua. Dengan mengurangi membeli pakaian baru maka anda membantu mengurangi pemakaian listrik di pabrik pakaian. 2.4 Peran Masyarakat Dalam Mengantisipasi Dampak Pemanasan Global Penebangan hutan secara liar (illegal loging) dan pertambangan secara besar-besaran, pengambilan terumbu karang adalah penyebab terjadinya perubahan iklim, juga penyebab utamanya adalah adanya emisi gas rumah kaca, apalagi dalam berbagai penelitian menyatakan bahwa Indonesia adalah penghasil gas rumah kaca di dunia. Perubahan iklim dan pemanasan global telah menjadi issu lingkungan global yang paling krusial beberapa tahun terakhir ini dan mulai menjadi perhatian politik internasional. Banyaknya prediksi ilmuan mengenai kemungkinan-kemungkinan bumi akan menghadapi berbagai bencana serius sebagai dampak dari perubahan iklim ini, berbagai kebijakan Nasional dan Internasional dan upaya-upaya serius mulai diambil sebagai upaya untuk mempersiapkan mitigasi dan adaptasi, untuk mengurangi resiko-resikonya. Akibat dari perubahan iklim ini terjadinya banjir bandang, longsor, musim tanam yang tidak menentu, cuaca yang cukup ekstrim, munculnya penyakit malaria, demam berdarah, masalah saluran pernapasan, kerawanan pangan dengan menurunnya hasil produksi para petani, meningkatnya kelaparan juga meningkatnya permukaan air laut merupakan ancaman yang dating silih berganti. Akibat-akibat yang muncul tersebut juga disebabkan oleh terdegradasinya nilai-nilai kearifan masyarakat dalam menata dan memelihara alam yang kita pijak ini, agama apapun secara mutlak menyarankan umatnya bahwa dilarang untuk melakukan pengerusakan di muka bumi ini, juga dibeberapa hokum dan aturan adat yang menjadi nilai dan norma keseharian juga mengarahkan semua umat manusia untuk selalu menjaga keseimbangan lingkungan, agar tidak serta merta membebaskan pikiran dan tangan manusia untuk melakukan kerusakan. Masyarakat memiliki kontribusi sangat besar terhadap penyelamatan sumberdaya alam dari pengaruh pemanasan global melalui cara-cara kearifan lokal. “Hutan adat sangatlah penting dipertahankan karena merupakan poros utama dalam menjaga kestabilan alam, diperkirakan 30-50 juta penduduk Indonesia adalah masyarakat adat yang kehidupannya masih tergantung dengan hutan adat”, kata Kamardi, SH, Anggota Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara dalam sebuah acara adat di Bayan. Perlunya sikap yang semakin bijak dalam menata lingkungan hidup di bumi, untuk mengantisipasi dampak pemanasan global. Langkah-langkah pembaharuan yang bersifat inovatif, menjadi terobosan baru, telah banyak dianjurkan oleh para pemerhati. Misalnya, upaya 3 R : Reduce (mengurangi penggunaan alat yang boros energi), Reuse (memakai kembali perkakas lama agar hemat energi) dan Recycle (mendaur ulang kembali bahan baku limbah menjadi produk baru). Aktifis tokoh penyelamat lingkungan tingkat lokal, nasional dan internasional, telah banyak pula memberikan teladan. Ada juga himbauan memperingati World Silent Day, hari untuk menyepi dan melakukan penghematan energi sedunia, sebagaimana setiap tahunnya masyarakat Bali melaksanakan tapa brata Nyepi. Secara sederhana anjuran ini dijalankan dengan menghentikan pemakaian energi listrik pada perkakas atau peralatan rumah tangga minimal selama 4 jam sehari. Sedangkan setiap tanggal 23 Maret, diperingati sebagai Hari Meteorologi Dunia, untuk menghormati terbentuknya organisasi meteorologi dunia (World Meteorologi Organisation= WMO). Menurut sumber situs informasi, tema peringatan yang diusung pada tahun 2010 yakni,”Upaya 60 tahun Organisasi Meteorologi Dunia Demi Keamanan dan Kesejahteraan Manusia”. Upaya ini perlu didukung bersama dalam mengantisipasi dampak negatif dari pemanasan global yang mengancam kelangsungan kehidupan mahluk hidup di bumi persada. Jadi dalam masalah ini sangat diperlukan peranan dari masyarakat untuk menjaga lingkungan di sekitarnya, baik lingkungan kota maupun perdesaan, atau yang tinggal di hutan. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Pemanasan global telah menjadi permasalahan yang menjadi sorotan utama umat manusia. Fenomena ini bukan lain diakibatkan oleh perbuatan manusia sendiri dan dampaknya diderita oleh manusia itu juga. Untuk mengatasi pemanasan global diperlukan usaha yang sangat keras karena hampir mustahil untuk diselesaikan saat ini. Pemanasan global memang sulit diatasi, namun kita bisa mengurangi efeknya. Penangguangan hal ini adalah kesadaran kita terhadap kehidupan bumi di masa depan. Apabila kita telah menanamkan kecintaan terhadap bumi ini maka pemanasan global hanyalah sejarah kelam yang pernah menimpa bumi ini. 3.2 Saran Kehidupan ini berawal dari kehidupan di bumi jauh sebelum makhluk hidup ada. Maka dari itu untuk menjaga dan melestarikan bumi ini harus beberapa dekade kah kita memikirkannya. Sampai pada satu sisi dimana bumi ini telah tua dan memohon agar kita menjaga serta melstarikannya. Marilah kita bergotong royong untuk menyelamatkan bumi yang telah memberikan kita kehidupan yang sempurna ini. Stop global warming. DAFTAR PUSATAKA  Wikipedia Indonesia (Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia) รข€“ Pemanasan Global  www.Pemanasanglobal.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar