welcome in my blog. i'm a university student civil engineering and i hope this blog can useful for you all. thank's *YNWA*
Kamis, 22 Maret 2012
STRUKTUR KAYU
ASPEK PENGAWETAN KAYU
A. Keawetan Kayu
Salah satu kekurangan kayu adalah dapat dirusak oleh organisme hidup. seperti jamur, serangga, dan binatang laut yang hidup merombak komponen utama pembentuk kayu seperti lignin dan selulosa, serta menurunkan kekuatan kayu. Mereka menggerek kayu sebagai makanan maupun tempat tinggal. Usia pakai kayu tergantung kepada kelas awet kayu terhadap faktor perusak. Keawetan kayu diartikan sebagai daya tahan kayu terhadap serangan faktor perusak kayu dari golongan biologis. Keawertan alami kayu ditentukan oleh zat ekstraktif yang bersifat racun terhadap organisme perusak. Dalam hal ini tiap jenis kayu mempunyai zat ekstrakrtif yang berlainan, sehingga mengakibatkan ketahanan kayu terhadap faktor perusak juga berlainan. Pada umumnya kayu gubal mempunyai keawetan yang lebih rendah dibanding kayu teras, karena kayu gubal tidak mengandung zat ekstraktif. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keawetan kayu berbeda-beda tergantung pada jenis organisme yang menyerangnya. Jadi kayu memiliki keawetan secara khusus terhadap organisme tertentu. Ketahanan kayu terhadap berbagai organisme perusak kayu berbeda-beda, dipengaruhi oleh sifat fisik dan kimia yang melekat pada kayu yang bersangkutan, jenis organisme yang menyerang, dan kondisi lingkungan yang mendukung kehidupan organisme perusak.
B. Keterawetan Kayu
Keterawetan kayu adalah kemampuan kayu untuk ditembus oleh bahan pengawet, sampai mencapai retensi dan penetrasi tertentu yang secara ekonomi menguntungkan dan efektif untuk mencegah faktor perusak kayu. Keterawetan kayu sangat bervariasi; kayu gubal mempunyai keterawetan yang lebih tinggi
Karena bagian ini sebelumnya berfungsi sebagi penyalur air dari akar ke daun, sedangkan kayu teras mempunyai sifat keterawetan yang kurang baik, karena terbentuknya tylosis serta deposit-deposit lainnya yang menutupi sel-sel kayu. Jika kayu tidak awet dipakai untuk perumahan dan gedung maka usia pakainya akan pendek, sehingga harus menggantinya dengan kayu yang baru. Akibatnya konsumsi kayu sering melebihi kecepatan pertumbuhan pohon, dan menyebabkan menyusutnya persediaan sumberdaya hutan kayu yang makin lama terancam habis. Supaya kayu yang berkelas awet III, IV, dan V dapat digunakan dengan baik dan lebih awet sebaiknya diawetkan terlebih dahulu dengan cara pengawetan kayu. Pengawetan kayu adalah proses memasukkan bahan kimia beracun atau bahan pengawet ke dalam kayu untuk meningkatkan kelas awet suatu jenis kayu. Pemberian bahan pengawet ke dalam kayu tidak awet, diharapkan dapat memperpanjang usia pakai kayu, minimal sama dengan usia pakai kayu kelas awet I yang tidak diawetkan. Bahan pengawet adalah bahan-bahan kimia yang apabila dimasukan ke dalam kayu akan menyebabkan kayu menjadi tahan terhadap serangan faktor-faktor perusak kayu golongan biologis. Berdasarkan sifat fisik dan kimianya, bahan pengawet kayu dapat digolongkan ke dalam tiga golongan besar, yaitu bahan pengawet berupa minyak, bahan pengawet larut minyak, dan bahan pengawet larut air. Dalam prakteknya yang dimaksud pengawetan kayu adalah perlakuan- perlakuan kimia. Ada empat faktor penting yang senantiasa diperhatikan dalam prose pengawetan kayu, yaitu: (1) Kondisi kayu yang diawetkan, (2) Bahan Pengawet, (3) Cara pengawetan, (4) Perlakuan setelah pengawetan. Keempat faktor tersebut dapat mempengaruhi hasil pengawetan baik, secara sendiri-sendiri maupun secara bersamaan. Efektifitas bahan pengawet tidak hanya ditentukan oleh daya racunnya saja, tetapi juga oleh metode pengawetan serta retensi dan penetrasinya ke dalam kayu. Besarnya absorbsi dan penetrasi yang bisa dicapai ditentukan oleh: (1) Struktur anatomi kayu, (2) Persiapan kayu sebelum diawetkan, (3) Metode pengawetan, dan (4) Jenis dan konsentrasi bahan pengawet. Menurut Barly dkk. (1995) dalam Djarwanto dan Abdurrahim (2000), paling tidak ada empat faktor yang sangat berpengaruh terhadap sifat mudah tidaknya kayu diawetkan atau lebih dikenal dengan sifat keterawetan kayu, yaitu: (1) jenis kayu yang ditandai sifat yang melekat pada kayu seperti struktur anatomi, permeabilitas, kerapatan, dan sebagainya, (2) keadaan kayu pada waktu diawetkan, seperti bentuk kayu, gubal/teras, kadar air, dan sebagainya (3) metode pengawetan yang diterapkan, dan (4) sifat bahan pengawet yang dipakai.
C. Organisme Perusak Kayu
Kayu yang berkeawetan alami rendah, mudah diserang oleh organisme perusak kayu berupa jamur, serangga dan binatang laut, tetapi akibat yang ditimbulkan oleh organisme tersebut terhadap kayu tidak sama di setiap lokasi. Pada bagian bangunan yang selalu lembab lebih banyak ditemukan serangan jamur daripada serangan serangga, dan serangan setiap jenis serangga berbeda pada setiap lokasi. Lingkungan hidup disekitarnya sangat berpengaruh terhadap kesinambungan hidup organisme. Atas dasar kenyataan tersebut penanggulangan organisme perusak kayu harus disesuaikan dengan kondisi serangan yang terdapat pada lokasi kayu dipasang dan atas dasar pengetahuan hubungan antar organisme perusak kayu dengan lingkungannya tersebut, mungkin dapat ditrerapkan metode pengawetan yang sesuai, sehingga dapat dicapai hasil yang optimal dengan biaya lebih kecil. Secara garis besar, faktor penyebab kerusakan kayu dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor biologis (hidup) dan faktor non biologis (mati).
1. Faktor Biologis
a. Cendawan (Jamur)
Cendawan atau lebih populer jamur adalah golongan tanaman tingkat rendah yang tidak mempunyai klorofil (zat hijau daun). Karena tidak berklorofil maka jamur tidak dapat memproduksi makanan sendiri. Oleh karena itu untuk kelangsungan hidupnya jamur menumpang pada mahluk hidup lain.
b. Serangga Perusak Kayu
Kerusakan kayu oleh serangga terutama disebabkan oleh jenis rayap dan kumbang bubuk. Serangan dapat terjadi pada pohon yang masih berdiri, kayu bulat yang sudah ditebang, kayu gergajian, dan produk peralatan dari kayu di dalam penyimpanan maupun dalam pemakaian. Serangan ditandai dengan adanya lubang-lubang atau gerekan menyerupai saluran di permukaan kayu. Akibatnya penampilan kayu kurang menarik dan kekuatannya menjadi menurun.
2. Faktor Non biologis
1. Cuaca
Permukaan kayu yang berhubungan langsung dengan kondisi lingkungan luar tanpa adanya perlindungan atau pelapisan bagian luar seperti cat dan vernis dapat mengalami kerusakan. Kerusakan itu biasanya disebut pelapukan.
2. Api
Api merupakan salah satu faktor nonbiotik, yang juga banyak menyebabkan kerusakn kayu. Sifat mudah terbakar adalah hambatan utama dalam penggunannya sebagai bahan bangunan. Kenyataan telah membuktikan bahwa kayu adalah bahan bangunan primer yang akan terbakar dan menyala pada suhu bakarnya. Karena itu, penggunaan kayu secara luas dan tanpa adanya batas (sekat) dalam pembuatan konstruksi gedung atau bangunan lainnya perlu dihindari. Sebab-sebab terbakarnya kayu yang tidak dilindungi pada suhu rendah oleh sumber kebakaran tergantung pada spesiesnya, tetapi lebih ditentukan oleh faktor seperti derajat kekeringan, suhu dari sumber panas, lamanya kena panas, ukuran dan bentuk kayu, serta detail dari konstruksi.
D. Pengawetan kayu
Pengawetan kayu merupakan suatu cara untuk meningkatkan keawetan kayu terhadap serangan faktor biologis penyebab kerusakan kayu. Caranya adalah dengan memasukan bahan kimia beracun ke dalam kayu, yang mengganggu kehidupan biologi tersebut sehingga kayu menjadi kebal terhadap serangan organisme dan usia pakainya menjadi lebih lama dari sebelum diawetkan. Jenis bahan pengawet yang beredar di pasaran ada berbagai macam, sehinga dalam memilih bahan pengawet harus diperhatikan beberapa hal antara lain: efikasi kayu terhadap organisme perusak, cara pengawetan yang akan dilakukan, ketahanan melekat di kayu, sifat korositas, aman terhadap manusia dan hewan ternak serta lingkungan, mudah penanganan dan harganya murah. Cara pengawetan kayu berpengaruh terhadap hasil pengawetan kayu. Secara umum pengawetan kayu dibagi ke dalam dua cara yaitu cara pengawetan dengan tekanan dan tanpa tekanan. Cara pengawetan dengan tekanan menggunakan peralatan tertutup seperti tangki yang mampu menahan tekanan tertentu, seperti cara pengawetan secara sel penuh. Cara pengawetan tanpa pengawetan dapat dilakukan dengan perendaman, difusi dan pelaburan. Cara pengawetan dengan tekanan hasilnya biasanya lebih baik dari tanpa tekanan, akan tetapi biaya dan peralatan yang digunakan lebih mahal. Cara ini cocok dilakukan untuk mengawetkan kayu yang dalam pemakaiannya memilki resiko kerusakan tinggi seperti bantalan kerta api, kayu dermaga, tiang listrik, menara pendingin, pemakaian lain yang berhubungan langsung dengan tanah, serta untuk mengawetkan kayu yang sulit ditembus bahan pengawet terutama bahan pengawet yang tidak mudah luntur. Cara pengawetan tanpa tekanan pada umunya hasilnya kurang begitu baik dibandingkan dengan cara tekanan karena penembusannya lebih rendah namun masih dapat memenuhi syarat yang baik retensi maupun penembusan tergantungan tujuan pemakaian. Keberhasilan suatu bahan pengawetan kayu diukur berdasarkan besarnya retensi dan penetrasi bahan aktif pengawet di dalam kayu yang diawetkan.
Jenis-jenis kayu disusun berdasarkan nama perdagangan
-------------------------------------------------------------------------------------------
| No.| Nama Perdagangan/Trade Name | Nama Botani/Botanical name | Suku/Family |
-------------------------------------------------------------------------------------------
| 1.| Agathis/Damar putih | Agathis alba Foxw. |Araucariaceae |
| 2 | Damar pilau | Agathis borneensis Warb. |Araucariaceae |
| 3.| Akasia/Pilang | Acacia leucophloea Willd. |Mimosaceae |
| 4.| Alau | Dacrydium spp. |Podocarpaceae |
| 5.| Ambacang/Binjai | Mangifera caesia Jack. |Anacardiaceae |
| 6.| Ampupu | Eucalyptus alba R. |Myrtaceae |
| 7.| Andalas | Morus macroura Miq. |Moraceae |
| 8.| Anggerit | Neonauclea lanceolata Merr. |Rubiaceae |
| 9.| Anggerung besar | Trema orientalis Bl. |Ulmaceae |
| 10.| Angsana kembang/Linggua | Pterocarpus indicus Willd. |Papilionaceae |
| 11.| Angsana keling/Sono keling | Dalbergia sissoides Grah. |Papilionaceae |
| 12.| Api-api | Avicennia spp. |Verbenaceae |
| 13.| Ara | Ficus indica L. |Moraceae |
| 14.| Ares/Benuang laki/Takir | Duabanga moluccana Bl. B. |Sonneratiaceae |
| 15.| Aro/Kiyara koneng | Ficus annulata Bl. |Moraceae |
| 16.| Aser/Kayu dada putih | Acer niveum Bl. |Aceraceae |
| 17.| Babi k. | Crypteronia spp. |Cryteroniaceae |
| 18.| Bakalaung | Maducha spp. |Sapotaceae |
| 19.| Bakau | Rhizophora spp. |Rhizophoraceae |
| 20.| Balau | Hopea spp. |Dipterocarpaceae |
| 21 | Balau penyau | Upunan borneensis Sym. |Dipterocarpaceae |
| 22.| Balau merah/Benuas | Shorea kunstleri King. |Dipterocarpaceae |
| 23.| Balam | Payena spp. |Sapotaceae |
| 24.| Balam lengiao | Knema spp. |Myristiaceae |
| 25.| Balsa | Ochroma spp. |Bombaceae |
| 26.| Banen k. | Crypteronia spp. |Crypteroniaceae |
| 27.| Bangku/Ketiau | Ganua motleyana Pierre. |Sapotaceae |
| 28.| Banteng k./Mensira | Ilex pleiobrachiata Loes. |Aquifoliaceae |
| 29.| Bangkirai | Shorea laevifolia Endert. |Dipterocarpaceae |
| 30.| Bangkong k./Bancet | Turpinia sphaerocarpa Hassk. |Staphyleaceae |
| 31.| Baniran/Menteng monyet | Neoscortechinia kingii Hoffm. |Euphorbiaceae |
| 32.| Banio/Meranti merkujang | Shorea leptocladus Sym. |Dipterocarpaceae |
| 33.| Balok | Vitex spp. |Verbenaceae |
| 34.| Banitan/Kayu bulan | Polythia glauca Boerl. |Annonaceae |
| 35.| Baros | Manglietia glauca Boerl. |Magnoliaceae |
| 36.| Batu k./Delingsem | Homalium spp. |Flacounteaceae |
| 37.| Bawang k./Surian bawang | Melia exelsa Jack. |Meliaceae |
| 38 | Mimba | Azadinachta indica A.Juss. |Meliaceae |
| 39 | Mindi | Melia azedarach Lin. |Meliaceae |
| 40.| Bawang hutan k./Kulim | Scorodocarpus borneensis Becc. |Olacaceae |
| 41.| Bawai | Parasianthes minahasae |Mimosaceae |
| 42.| Bayur | Pterospermum spp. |Sterculiaceae |
| 43.| Bias/Mensira | Ilex pleiobrachiata Loes. |Aquifoliaceae |
| 44.| Bedaru/Daru-daru | Cantleya corniculata Howard. |Icacinaceae |
| 45.| Belangiran | Shorea belangeran Burck. |Dipterocarpaceae |
| 46.| Belian/Ulin | Eusideroxylon zwageri T.et.B |Lauraceae |
| 47.| Bengkal puri | Neonauclea orientalis L. |Rubiaceae |
| 48.| Bengkal udang | Neonauclea subdita Merr. |Rubiaceae |
| 49.| Benua | Macaranga spp. |Euphorbiaceae |
| 50.| Beruas | Garcinia celebica L. |Guttiferae |
| 51.| Benuas | Shorea laevifolia Endert. |Dipterocarpaceae |
| 52.| Benuas lebar daun | Shorea kunstleri King. |Dipterocarpaceae |
| 53.| Bengang | Neesia spp. |Bombaceae |
| 54.| Bentaos | Wrightia spp. |Apocynaceae |
| 55.| Bentawas | Wrightia spp. |Apocynaceae |
| 56.| Berangan pagar anak | Castanopsis acuminatissima A.Dc. |Fagaceae |
| 57.| Berangan saninten | Castanopsis argentea A.Dc. |Fagaceae |
| 58.| Berangan eha | Castanopsis buruana Miq. |Fagaceae |
| 59.| Berangan gundul | Castanopsis sumatrana A.DC. |Fagaceae |
| 60.| Berumbung/Lasi | Adina fagifolia Val. |Rubiaceae |
| 61.| Besi k./Belian/Ulin | Eusideroxylon zwageri T.et.B |Lauraceae |
| 62.| Binuang | Octomeles sumatrana Miq. |Daticaceae |
| 63.| Binuang laki | Duabanga moluccana Bl. |Sonneratiaceae |
| 64.| Binong | Tetrameles nudiflora R.Br. |Daticaceae |
| 65.| Bintangur | Calophyllum spp. |Guttiferae |
| 66.| Bintungan | Bischeffia javanica Bl. |Euphorbiaceae |
| 67.| Bipa k./Keresak bulu | Pterygota forbesii F.V. Muell. |Sterculiaceae |
| 68.| Bitis k. | Palaquium ridleyi K.et.G |Sapotaceae |
| 69.| Bowoi | Parasianthes minahassae |Mimosaceae |
| 70.| Boboy | Parasianthes minahassae |Mimosaceae |
| 71.| Bogang | Neesia spp. |Bombaceae |
| 72.| Bogem/Perepat laut | Sonneratia alba Smith. |Sonneratiaceae |
| 73.| Bogin/Bongin/Pauh kijang | Irvingin malayana Oliv. |Simarubaceae |
| 74.| Buah k. | Crypteronia spp. |Cryptenoniaceae |
| 75.| Bugis k. | Koordersiodendron pinnatum Merr. |Anacardiaceae |
| 76.| Buluh/Merambung | Vernonia arborea Ham. |Compositae |
| 77.| Bulan k. | Endospermum spp. |Euphorbiaceae |
| | | Xanthophylum spp. |- |
| 78.| Bungur | Lagerstoemia spp. |Lythraceae |
| 79.| Butun | Barringtonia app. |Lecythidaceae |
| 80.| Buta-buta | Excoecaria agallocha L. |Euphorbiaceae |
| 81.| Candu k. | Fraxinus griffithii Olarke. |Olaceae |
| 82.| Cangcaratan | Neonauclea calycina Merr. |Rubiaceae |
| 83.| Copot | Camnosperma spp. |Anacardiaceae |
| 84.| Camantan/Alau | Dacrydium spp. |Podocarpaceae |
| 85.| Cemara laut | Casuarina equsetifolia Forst |Casuarinaceae |
| 86.| Cemara gunung | Casuarina junghuhniana Miq. |Casuarinaceae |
| 87.| Cempaga/Teki | Dysoxylum spp. |Meliaceae |
| 88.| Cempaka hutan | Elmerrilla ovalis Dandy. |Magnoliaceae |
| 89 | Manglid | Michelia velutina Bl. |Magnoliaceae |
| 90.| Cempaka/Wasian | Elmerrilla celebica Dandy. |Magnoliaceae |
| 91.| Cengal | Hopea sangal Korth. |Dipterocarpaceae |
| 92.| Cendana | Santalum album Lann. |Santalaceae |
| 93.| Cange/Cingo/Kitenjo | Mastixia rostrata Bl. |Cornaceae |
| 94.| Cina k./Sampinur/Melur | Dacrydium elatum Wall. |Podocarpaceae |
| 95.| Cingo/Cenge | Mastixia rostrata Bl. |Cornaceae |
| 96.| Coromandel/Kayu hitam | Diospyros celebica Bakh. |Ebenaceae |
| 97.| Dahu | Dracontomelon dao Merr et.Polfe. |Anacardiaceae |
| 98.| Damar malili | Agathis hammii M.Dr. |Araucariceae |
| 99.| Damar merah | Agathis loranthifolia Salisb. |Araucariceae |
|100.| Damar daging | Agathis beccarii Warb. |Araucariceae |
|101.| Damar putih/Agathis | Agathis alba Foxw. |Araucariceae |
|102.| Damar buah | Shorea gibbosa Brandis. |Dipterocarpaceae |
|103.| Damar kedontang | Shorea bracteolata Dyer. |Dipterocarpaceae |
|104.| Damar laut/Merawan seluai | Hopea dryobalanoides Miq. |Dipterocarpaceae |
|105.| Damar maja | Shorea virescens Parijs. |Dipterocarpaceae |
|106.| Damar mesegar | Shorea sororia V.Sl. |Dipterocarpaceae |
|107.| Damar munsarai | Shorea retinodes V.Sl. |Dipterocarpaceae |
|108.| Damar pakit | Shorea acuminatissima Sym. |Dipterocarpaceae |
|109.| Damar siput | Shorea faguetiana Heim. |Dipterocarpaceae |
|110.| Damar tanduk | Shorea multiflora Sym. |Dipterocarpaceae |
|111.| Damar tenang | Shorea koordesii Brandis. |Dipterocarpaceae |
|112.| Damar tunam | Shorea lamellata Foxw. |Dipterocarpaceae |
|113.| Daru-daru | Cantleya corniculata Howard. |Icacinaceae |
|114.| Damuli/Tempinis | Sloetia elongata Kds. |Moraceae |
|115.| Dahu besar daun | Dracontomelon mangiferum Bl. |Anacardiaceae |
|116.| Dahu kecil daun | Dracontomelon dao Merr. |Anacardiaceae |
|117.| Delingsem/K. Batu | Homalium tomentosum Benth. |Flacourtiaceae |
|118.| Duabanga/Ares/Takir | Duabanga moluccana Bl. |Sonneratiaceae |
|119.| Duhat | Eugenia cumini Druce. |Myrtaceae |
|120.| Dungun/Atung laut | Heritiera littoralis Dry. |Sterculiaceae |
|121.| Dungun darat | Tarrietia javanica Bl. |Sterculiaceae |
|122.| Durian | Durio zibethinus Murr. |Bombaceae |
|123.| Durian burung | Durio carinatus Mast. |Bombaceae |
|124.| Durian daun | Durio oxleyanus Grifi. |Bombaceae |
|125.| Ebony | Diospyros spp. |Ebenaceae |
|126.| Empelas batu/Penjalinan | Celtis spp. |Ulmaceae |
|127.| Engulas | Celtis spp. |Ulmaceae |
|128.| Ampupu/Eucaliptus | Eucalyptus spp. |Myrtaceae |
|129.| Gadog/Bintungan | Bischeffia javanica Bl. |Euphorbiaceae |
|130.| Gaharu buaya | Gonystylus hankenbergii Diels. |Thymelaeaceae |
|131.| Gaharu hitam | Gonystylus macrophyllus A.Shaw. |Thymelaeaceae |
|132.| Gaharu laka | Aetoxylon sympetalum A.Shaw. |Thymelaeaceae |
|133.| Galedupa, k. | Sindora galedupa Prain. |Caesalpiniaceae |
|134.| Gambir, k. | Trigonopleura malayana Hook.f. |Euphorbiaceae |
|135.| Gardenia | Gardenia spp. |Rubiaceae |
|136.| Gelam/Sitepung/Merambung | Vernonia arborea Ham. |Compositae |
|137.| Gempol/Bengkal | Nauclea orientalis L. |Rubiaceae |
|138.| Gerok ayam/Terentang | Buchanania arborescena Bl. |Anacardiaceae |
|139.| Gerunggang | Cratoxylon arborescena Blume. |Guttiferae |
|140.| Getah hangkang | Palaquium leiocarpum Bl. |Sapotaceae |
|141.| Getah perca | Palaquium gutta Baill. |Sapotaceae |
|142.| Getah sundai | Payena leerii Kurz. |Sapotaceae |
|143.| Giam padi | Cotylelobium malayanum V.Sl. |Dipterocarpaceae |
|144.| Giam tembaga | Cotylelobium melanoxylon Pierre. |Dipterocarpaceae |
|145.| Giam hulodere | Vatica flavovirens V.Sl. |Dipterocarpaceae |
-------------------------------------------------------------------------------------------
SIFAT-SIFAT KAYU DAN PENGGUNAANNYA
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kayu merupakan bahan yang sangat sering dipergunakan untuk tujuan penggunaan tertentu. Terkadang sebagai barang tertentu, kayu tidak dapat digantikan dengan bahan lain karena sifat khasnya. Kita sebagai pengguna dari kayu yang setiap jenisnya mempunyai sifat-sifat yang berbeda, perlu mengenal sifat-sifat kayu tersebut sehingga dalam pemilihan atau penentuan jenis untuk tujuan penggunaan tertentu harus betul-betul sesuai dengan yang kita inginkan. Berikut ini diuraikan sifat-sifat kayu (fisik dan mekanik) serta macam penggunaannya.
A. Pengenalan Sifat-Sifat Kayu
Kayu merupakan hasil hutan yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain. Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian, memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat kayu. Sifat-sifat ini penting sekali dalam industri pengolahan kayu sebab dari pengetahuan sifat tersebut tidak saja dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang memungkinkan, akan tetapi juga dapat dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu lainnya apabila jenis yang bersangkutan sulit didapat secara kontinyu atau terlalu mahal.
Kayu berasal dari berbagai jenis pohon yang memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda. Bahkan dalam satu pohon, kayu mempunyai sifat yang berbeda-beda. Dari sekian banyak sifat-sifat kayu yang berbeda satu sama lain, ada beberapa sifat yang umum terdapat pada semua jenis kayu yaitu:
1. Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat).
2. Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan tangensial).
3. Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara disekelilingnya.
4. Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan kering.
B. Sifat Fisik Kayu
1. Berat dan Berat Jenis
Berat suatu kayu tergantung dari jumlah zat kayu, rongga sel, kadar air dan zat ekstraktif didalamnya. Berat suatu jenis kayu berbanding lurus dengan BJ-nya. Kayu mempunyai berat jenis yang berbeda-beda, berkisar antara BJ minimum 0,2 (kayu balsa) sampai BJ 1,28 (kayu nani). Umumnya makin tinggi BJ kayu, kayu semakin berat dan semakin kuat pula.
2. Keawetan
Keawetan adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsur perusak kayu dari luar seperti jamur, rayap, bubuk dll. Keawetan kayu tersebut disebabkan adanya zat ekstraktif didalam kayu yang merupakan unsur racun bagi perusak kayu. Zat ekstraktif tersebut terbentuk pada saat kayu gubal berubah menjadi kayu teras sehingga pada umumnya kayu teras lebih awet dari kayu gubal.
3. Warna
Kayu yang beraneka warna macamnya disebabkan oleh zat pengisi warna dalam kayu yang berbeda-beda.
4. Tekstur
Tekstur adalah ukuran relatif sel-sel kayu. Berdasarkan teksturnya, kayu digolongkan kedalam kayu bertekstur halus (contoh: giam, kulim dll), kayu bertekstur sedang (contoh: jati, sonokeling dll) dan kayu bertekstur kasar (contoh: kempas, meranti dll).
5. Arah Serat
Arah serat adalah arah umum sel-sel kayu terhadap sumbu batang pohon. Arah serat dapat dibedakan menjadi serat lurus, serat berpadu, serat berombak, serta terpilin dan serat diagonal (serat miring).
6. Kesan Raba
Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat meraba permukaan kayu (kasar, halus, licin, dingin, berminyak dll). Kesan raba tiap jenis kayu berbeda-beda tergantung dari tekstur kayu, kadar air, kadar zat ekstraktif dalam kayu.
7. Bau dan Rasa
Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di udara terbuka. Beberapa jenis kayu mempunyai bau yang merangsang dan untuk menyatakan bau kayu tersebut, sering digunakan bau sesuatu benda yang umum dikenal misalnya bau bawang (kulim), bau zat penyamak (jati), bau kamper (kapur) dsb.
8. Nilai Dekoratif
Gambar kayu tergantung dari pola penyebaran warna, arah serat, tekstur, dan pemunculan riap-riap tumbuh dalam pola-pola tertentu. Pola gambar ini yang membuat sesuatu jenis kayu mempunyai nilai dekoratif.
9. Higroskopis
Kayu mempunyai sifat dapat menyerap atau melepaskan air. Makin lembab udara disekitarnya makin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai keseimbangan dengan lingkungannya. Dalam kondisi kelembaban kayu sama dengan kelembaban udara disekelilingnya disebut kandungan air keseimbangan (EMC = Equilibrium Moisture Content).
10. Sifat Kayu terhadap Suara, yang terdiri dari :
a. Sifat akustik, yaitu kemampuan untuk meneruskan suara berkaitan erat dengan elastisitas kayu.
b. Sifat resonansi, yaitu turut bergetarnya kayu akibat adanya gelombang suara. Kualitas nada yang dikeluarkan kayu sangat baik, sehingga kayu banyak dipakai untuk bahan pembuatan alat musik (kulintang, gitar, biola dll).
11. Daya Hantar Panas
Sifat daya hantar kayu sangat jelek sehingga kayu banyak digunakan untuk membuat barang-barang yang berhubungan langsung dengan sumber panas.
12. Daya Hantar Listrik
13. Pada umumnya kayu merupakan bahan hantar yang jelek untuk aliran listrik. Daya hantar listrik ini dipengaruhi oleh kadar air kayu. Pada kadar air 0 %, kayu akan menjadi bahan sekat listrik yang baik sekali, sebaliknya apabila kayu mengandung air maksimum (kayu basah), maka daya hantarnya boleh dikatakan sama dengan daya hantar air.
C. Sifat Mekanik Kayu
1. Keteguhan Tarik
Keteguhan tarik adalah kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha menarik kayu. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tarik yaitu :
a. Keteguhan tarik sejajar arah serat dan
b. Keteguhan tarik tegak lurus arah serat.
Kekuatan tarik terbesar pada kayu ialah keteguhan tarik sejajar arah serat. Kekuatan tarik tegak lurus arah serat lebih kecil daripada kekuatan tarik sejajar arah serat.
2. Keteguhan tekan / Kompresi
Keteguhan tekan/kompresi adalah kekuatan kayu untuk menahan muatan/beban. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tekan yaitu :
a. Keteguhan tekan sejajar arah serat dan
b. Keteguhan tekan tegak lurus arah serat.
Pada semua kayu, keteguhan tegak lurus serat lebih kecil daripada keteguhan kompresi sejajar arah serat.
3. Keteguhan Geser
Keteguhan geser adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang membuat suatu bagian kayu tersebut turut bergeser dari bagian lain di dekatnya. Terdapat 3 (tiga) macam keteguhan yaitu :
a. Keteguhan geser sejajar arah serat
b. Keteguhan geser tegak lurus arah serat dan
c. Keteguhan geser miring
Keteguhan geser tegak lurus serat jauh lebih besar dari pada keteguhan geser sejajar arah serat.
4. Keteguhan lengkung (lentur)
Keteguhan lengkung/lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan beban mati maupun hidup selain beban pukulan. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan yaitu :
a. Keteguhan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara perlahan-lahan.
b. Keteguhan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara mendadak.
5. Kekakuan
Kekakuan adalah kemampuan kayu untuk menahan perubahan bentuk atau lengkungan. Kekakuan tersebut dinyatakan dalam modulus elastisitas.
6. Keuletan
Keuletan adalah kemampuan kayu untuk menyerap sejumlah tenaga yang relatif besar atau tahan terhadap kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan yang berulang-ulang yang melampaui batas proporsional serta mengakibatkan perubahan bentuk yang permanen dan kerusakan sebagian.
7. Kekerasan
Kekerasan adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya yang membuat takik atau lekukan atau kikisan (abrasi). Bersama-sama dengan keuletan, kekerasan merupakan suatu ukuran tentang ketahanan terhadap pengausan kayu.
8. Keteguhan Belah
Keteguhan belah adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha membelah kayu. Sifat keteguhan belah yang rendah sangat baik dalam pembuatan sirap dan kayu bakar. Sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan ukir-ukiran (patung). Pada umumnya kayu mudah dibelah sepanjang jari-jari (arah radial) dari pada arah tangensial.
Ukuran yang dipakai untuk menjabarkan sifat-sifat keku-atan kayu atau sifat mekaniknya dinyatakan dalam kg/cm2. Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat mekanik kayu secara garis besar digolongkan menjadi dua kelompok :
a. Faktor luar (eksternal): pengawetan kayu, kelembaban lingkungan, pembebanan dan cacat yang disebabkan oleh jamur atau serangga perusak kayu.
b. Faktor dalam kayu (internal): BJ, cacat mata kayu, serat miring dsb.
D. Macam Penggunaan Kayu
Penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian tertentu tergantung dari sifat-sifat kayu yang bersangkutan dan persyaratan teknis yang diperlukan. Jenis-jenis kayu yang mempunyai persyaratan untuk tujuan pemakaian tertentu antara lain dapat dikemukan sebagai berikut :
1. Bangunan (Konstruksi)
Persyaratan teknis : kuat, keras, berukuran besar dan mempunyai keawetan alam yang tinggi.
Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, cengal, giam, jati, kapur, kempas, keruing, lara, rasamala.
2. Veneer biasa
Persyaratan teknis : kayu bulat berdiameter besar, bulat, bebas cacat dan beratnya sedang.
Jenis kayu : meranti merah, meranti putih, nyatoh, ramin, agathis, benuang.
3. Veneer mewah
Persyaratan teknis : disamping syarat di atas, kayu harus bernilai dekoratif.
Jenis kayu : jati, eboni, sonokeling, kuku, bongin, dahu, lasi, rengas, sungkai, weru, sonokembang.
4. Perkakas (mebel)
Persyaratan teknis : berat sedang, dimensi stabil, dekoratif, mudah dikerjakan, mudah dipaku, dibubut, disekrup, dilem dan dikerat.
Jenis kayu : jati, eboni, kuku, mahoni, meranti, rengas, sonokeling, sonokembang, ramin.
5. Lantai (parket)
Persyaratan teknis : keras, daya abrasi tinggi, tahan asam, mudah dipaku dan cukup kuat.
Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, bintangur, bongin, bungur, jati, kuku.
6. Bantalan Kereta Api
Persyaratan teknis : kuat, keras, kaku, awet.
Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, bedaru, belangeran, bintangur, kempas, ulin.
7. Alat Olah Raga
Persyaratan teknis : kuat, tidak mudah patah, ringan, tekstur halus, serat halus, serat lurus dan panjang, kaku, cukup awet.
Jenis kayu : agathis, bedaru, melur, merawan, nyatoh, salimuli, sonokeling, teraling.
8. Alat Musik
Persyaratan teknis : tekstur halus, berserat lurus, tidak mudah belah, daya resonansi baik.
Jenis kayu : cempaka, merawan, nyatoh, jati, lasi, eboni.
9. Alat Gambar
Persyaratan teknis : ringan, tekstur halus, warna bersih.
Jenis kayu : jelutung, melur, pulai, pinus.
10. Tong Kayu (Gentong)
Persyaratan teknis : tidak tembus cairan dan tidak mengeluarkan bau.
Jenis kayu : balau, bangkirai, jati, pasang.
11. Tiang Listrik dan Telepon
Persyaratan teknis : kuat menahan angin, ringan, cukup kuat, bentuk lurus.
Jenis kayu : balau, giam jati, kulim, lara, merbau, tembesu, ulin.
12. Patung dan Ukiran Kayu
Persyaratan teknis : serat lurus, keras, tekstur halus, liat, tidak mudah patah dan berwarna gelap.
Jenis kayu : jati, sonokeling, salimuli, melur, cempaka, eboni.
13. Korek Api
Persyaratan teknis : sama dengan persyaratan veneer, cukup kuat (anak korek api), elastis dan tidak mudah pecah (kotak).
Jenis kayu : agathis, benuang, jambu, kemiri, sengon, perupuk, pulai, terentang, pinus.
14. Pensil
Persyaratan teknis : BJ sedang, mudah dikerat, tidak mudah bengkok, warna agak merah, berserat lurus.
Jenis kayu : agathis, jelutung, melur, pinus.
15. Moulding
Persyaratan teknis : ringan, serat lurus, tekstur halus, mudah dikerjakan, mudah dipaku. Warna terang, tanpa cacat, dekoratif.
Jenis kayu : jelutung, pulai ramin, meranti dll.
16. Perkapalan
Lunas
Persyaratan teknis : tidak mudah pecah, tahan binatang laut.
Jenis kayu : ulin, kapur.
Gading
Persyaratan teknis : kuat, liat, tidak mudah pecah, tahan binatang laut.
Jenis kayu : bangkirai, bungur, kapur.
Senta
Persyaratan teknis : kuat, liat, tidak mudah pecah, tahan binatang laut.
Jenis kayu : bangkirai, bungur, kapur.
Kulit
Persyaratan teknis : tidak mudah pecah, kuat, liat, tahan binatang laut.
Jenis kayu : bangkirai, bungur, meranti merah.
Bangunan dan dudukan mesin
Persyaratan teknis : ringan, kuat dan awet, tidak mudah pecah karena getaran mesin.
Jenis kayu : kapur, meranti merah, medang, ulin, bangkirai.
Pembungkus as baling-baling
Persyaratan teknis : liat, lunak sehingga tidak merusak logam.
Jenis kayu : nangka, bungur, sawo.
Popor Senjata
Persyaratan teknis : ringan, liat, kuat, keras, dimensi stabil.
Jenis kayu : waru, salimuli, jati.
Sumber :
1. Nama-nama Kesatuan Untuk jenis-jenis Pohon Jang Penting di Indonesia. Pengumuman Istimewa Balai Penyelidikan Kehutanan No. 6. 1952. Balai Penyelidikan Kehutanan. Djawatan Kehutanan, Kementerian Pertanian.
2. Jenis-jenis Kayu Komersiil di Indonesia. Edisi Khusus No 38A. 1983. Direktorat Bina Program, Direktorat Jenderal Kehutanan.
3. 400 Jenis Pohon Indonesia dan Index. Pusat Dokumentasi Lembaga Penelitian Hasil Hutan, 1975
4. Plant Resources of South-East Asia : Basic List of Species and Commodity Grouping; Final Version. Prosea, 1993)
5. Tree Flora of Indonesia.Badan Litbang Departemen Kehutanan, 1989.
6. 4000 Jenis Pohon di Indonesia dan Index.Badan Litbang Departemen Kehutanan, 1993.
7.Kayu Perdagangan Indonesia, Sifat dan kegunaannya,LPHH,Balitbang,Departemen pertanian,1979
DATA HASIL SURVAY DI LAPANGAN
JENIS KAYU ASAL KAYU HARGA KAYU
Meranti Minas Rp. 1.150.000/kubik
Balam Lipat kain Rp. 1.600.000/kubik
Kulim Perawang Rp. 2.900.000/kubik
Merbau Sorek Rp. 2.600.000/kubik
Sungkai - Rp. 1.800.000/kubik
Rengas - Rp. 1.150.000/kubik
Durian - Rp. 1.150.000/kubik
Bayur - Rp. 1.600.000/kubik
Tembusu - Rp. 5.000.000/kubik
Golong-golong - Rp. 5.000/batang
Kayu bor - Rp. 13.000/batang
Tips Memilih Kayu yang Bagus :
Di lihat padat
Tidak terlalu berat
Arah serat dan bentuk kayu harus lurus
Tidak ada cacat kayu
Kulit kayu yang tertinggal tidak ada
Kayu harus kering/ kadar air rendah
Kulit kayu yang tertinggal tidak ada
Kayu harus kering/ kadar air rendah
DATA HASIL SURVAY DI LAPANGAN
JENIS KAYU ASAL KAYU HARGA KAYU
Meranti Minas Rp. 1.150.000/kubik
Balam Lipat kain Rp. 1.600.000/kubik
Kulim Perawang Rp. 2.900.000/kubik
Merbau Sorek Rp. 2.600.000/kubik
Sungkai - Rp. 1.800.000/kubik
Rengas - Rp. 1.150.000/kubik
Durian - Rp. 1.150.000/kubik
Bayur - Rp. 1.600.000/kubik
Tembusu - Rp. 5.000.000/kubik
Golong-golong - Rp. 5.000/batang
Kayu bor - Rp. 13.000/batang
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar